ta http-equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8" /> Mes Histoires
Photography Tumblr Themes

Mes Histoires

Sebuah Kisah Tentang Hati Yang Patah - Mimpi Yang Terbunuh

****
Membunuh mimpi seseorang adalah sebuah kejahatan yang besar. Karena itu sama saja dengan merampas kehidupannya.
***

Sirine. Yang aku tahu itu bunyi sirine. Perlahan-lahan kubuka mataku. Tak tahan dengan bunyi sirine yang sangat mengganggu tidurku. Apa yang mereka lakukan sampai sirine itu mendengung kencang? Akhirnya samar-samar suara sirine yang mengganggu itu hilang juga. Akhirnya aku tertidur kembali.

Cahaya lampu, itu yang pertama kali kulihat saat membuka mata. Aku menyipitkan lagi mataku, terlalu kaget untuk melihat sinar lampu yang kuat saat aku terbangun. Setelah cukup kuat, aku pun membuka mataku kembali. Rasanya aku kok lemas sekali?

“Dia sadar! Maurin sadar!” seseorang memekik gembira menyebutkan namaku. Sadar? Tunggu, apa aku pingsan?

”Maurin! Akhirnya kamu sadar, Nak!”

Aku mengenal suara itu, Mama.

Suara-suara lain ikut menyebutkan namaku. Terdengar amat gembira. Ada apa sebenarnya?

Aku mencoba mengangkat tangan kiriku. Mencoba mengusap peluh yang membasahi kening dan wajahku. Tapi mengapa sakit rasanya?
Aku coba tangan yang kanan. Sakit juga. Ada jarum infus menancap di situ.

Infus? Apa aku berada di rumah sakit? Tapi aku tidak sakit!

Perlahan-lahan, aku menatap tangan kiriku. Pergelangannya dibalut sesuatu yang tak ku tahu apa namanya. Oh iya, aku ingat…

Beberapa waktu yang lalu, tepat setelah adzan maghrib berkumandang, aku mencoba bunuh diri.

***
Alita, si Pembunuh Mimpi
***

Allahuakbar Allahuakbar!

Suara adzan shubuh membangunkanku dari tidurku yang lelap. Perlahan-lahan aku meregangkan tubuhku, sudah terbiasa bangun sepagi ini meskipun berhalangan untuk sholat.

Seperti tersadar, aku meraih handphoneku di sisi kiri tempat tidurku, membuka Opera Mini dan mengetikkan sebuah twitter client yang biasa kugunakan. Setelah terkoneksi, aku mengetikkan sebuah alamat akun orang yang kusukai

 http://mobile.twitter.com/user/pecintanada

Hari sebelumnya, aku dan dia sudah mention-mentionan seharian penuh. Aku hanya ingin memastikan kalau tweet terakhirnya adalah untukku. Senyum terulas di wajahku sambil memikirkan hal itu. Tapi kemudian langsung terhapus kala kulihat tweet terakhirnya

‘Ingin mengenalmu lebih.’

Intuisiku langsung berjalan, mengatakan bahwa tweet itu bukanlah untukku. Seakan tersadar, aku membuka tab baru untuk membuka facebook. Setelah terbuka, aku segera mensearching namanya.

‘Arjuna Abimanyu’

Profilenya terbuka, dan aku melihat wallnya penuh dengan foto dan postingan dari seorang perempuan yang aku kenal

‘Talita Anisa’

Lagi-lagi, Alita!

***
Deja vu.
***

Roda waktu seakan berputar, membawaku pada masa-masa menyedihkan. 5 bulan yang lalu, dimana aku harus merelakan orang yang aku sayangi dan membiarkannya berada di samping Alita. Ya, siapa lagi kalau bukan Windu Adji.

Windu, dia adalah sahabatku, yang paling baik. Apalagi dahulu, aku menyimpan suatu rasa yang lebih daripada ’sahabat’. Dan ada sahabatku yang lain berkata, kalau Windu memendam rasa yang sama. Dia adalah sahabatku juga sahabatnya Windu yang jelas aku percaya. Rasanya, aku seperti terbang ke langit ketujuh.

Aku senang, Windu memang orang yang sangat baik. Dia sangat mempercayai aku. Beberapa rahasianya sampai saat ini ada di tanganku. Dan jika ia ingin mencari sebuah nasihat, ia mendatangiku. Begitu pula sebaliknya.

Dan rasa yang menyenangkan itu berubah menjadi rasa kesal, setiap aku melihat Alita menghampiri Windu yang sedang sendiri di depan kelasnya sembari membawa sebuah buku catatan. Dia meminta Windu untuk mengajarinya matematika.

Cih. Aku, yang sedang berdiri di depan kelasku yang terpaut satu kelas dengan kelas Windu, memalingkan muka. Rasa cemburu begitu menyeruak, memakanku juga hatiku. Muak.

Tak lama, mereka semakin dekat, sementara aku dan Windu, semakin jauh. Biasanya kita selalu smsan tiap harinya. Kini, seminggu sekalipun hampir tidak pernah.

Dan aku sudah merelakan Windu untuk Alita. Ya! Aku mengorbankan perasaanku untuk orang yang paling aku benci! Perempuan genit yang mendekati Windu seenak jidat dan merebutnya dariku! Dan ternyata bukan hanya aku yang tidak menyukainya, teman-temanku yang dulu sekelas dengannya waktu kelas satu, ataupun yang lainnya, juga tidak menyukainya.

Perasaanku pada Windu, ternyata cukup kuat, pernah sekali aku melihat Windu dan Alita mengobrol di dalam kelas Windu! Bukan kelasnya Alita! Awalnya aku merutuki perempuat genit itu, tapi kemudian aku menangis. Tak sanggup untuk menyadari kenyataan yang ada bahwa Windu mungkin lebih memilih berbincang dengan si genit Alita ketimbang meluangkan waktunya sedikit untukku.

Perlahan-lahan, aku bangkit. Tidak ada lagi kata menangis karena Windu atau Alita. Air mataku terlalu berharga. Aku tak mau membuangnya hanya karena mereka.

Lalu Arjuna, kakak kelasku yang sudah aku sukai sejak awal berjumpa makin akrab denganku. Sungguh senang rasanya. Kak Arjuna bukanlah pelarianku. Aku memang menyukainya sejak dulu, hanya saja takdir membuatku lebih dekat dengan Windu ketimbang dengan kak Arjuna. Dan akhirnya, takdir kembali membawaku mengenal Kak Arjuna lebih dalam, hingga akhirnya aku tak pernah menyangka bisa sedekat ini. Lalu kemudian, Alita kembali merampasnya dari kehidupanku. Menjatuhkanku yang sedang terbang menuju langit ke tujuh. Dan membunuh semua mimpi-mimpiku.

Dan membunuh mimpiku, sama saja dengan membunuh jiwaku, kehidupanku.

***
Kak Andhika, yang telah jujur.
***

Serasa ingin menangis, ternyata air mataku jatuh dengan sendirinya. 5 menit aku merasa seperti kehilangan nyawa, hanya bisa diam dengan air mata yang mengucur deras. Kemudian aku mengusap air mata yang terjatuh itu, aku melihat aplikasi y!m ku masih menyala dari tadi malam, aku lupa mematikannya, dan terlihat satu orang, sahabat kak Arjuna, Kak Andhika yang sedang online.

Tanpa pikir panjang, aku segera menyapanya. ingin cepat-cepat bertanya ada apa sebenarnya antara Alita dan Kak Arjuna karena aku ingat, kemarin ia menanyakan padaku perihal Alita.

Awalnya dia seperti merahasiakan sesuatu dariku, dia tidak ingin mengungkapkannya padaku. Aku makin lemas, aku terus bertanya siapa sebenarnya yang menanyakan Alita, dia atau …. ?

Dan semua terungkap, memang kak Arjuna yang menanyakannya, dan karena kak Andhika sangat penasaran, ia menanyakannya padaku.

Lengkap sudah. Mimpiku sudah pergi. Dan aku di sini menangis, dengan hati yang hancur berkeping-keping.

Aku mengungkapkan semuanya, dari A sampai Z pada kak Andhika, cerita antara aku, Windu, Alita, dan aku juga bilang tebakannya dulu soal aku yang menyukai kak Arjuna memang benar, dan dia terus-terusan memohon maafku, merasa bahwa dia ikut andil dalam masalah ini. Aku sendiri merasa dia justru membantuku, bukan yang menyebabkan masalah.

Aku kembali menarik selimutku, terisak di dalamnya menumpahkan segalanya lewat tangisan. Aku tidak ingin pergi ke sekolah hari ini.

Aku tidak ingin bertemu mereka hari ini.

***
Arjuna, Kuda Putih, dan Srikandi
***

Say you’re sorry
That face of an angel
Comes out just when you need it to
As I paced back and forth all this time
Cause I honestly believed in you
Holding on
The days drag on
Stupid girl,
I should have known, I should have known

Sehabis adzan Maghrib, sebuah lagu dari Taylor Swift menggema di dalam kamarku yang bernuansa putih. White Horse, judul lagu itu, entah kenapa begitu terdengar menyesakkan. Lagu itu memang sedih, tapi aku tidak pernah sesedih ini kala mendengarnya. Hahaha gadis bodoh!

I’m not a princess, this ain’t a fairy tale
I’m not the one you’ll sweep off her feet
Lead her up the stairwell
This ain’t Hollywood, this is a small town
I was a dreamer before you went and let
me down,
Now it’s too late for you and your white horse to come around

Aku menangis, di lantai kamarku sembari memeluk kedua lututku. Maurin, dengar Maurin! You’re not a princess! Aku menjerit di dalam hati. Lirik lagu itu terlalu menyayat, aku tidak kuat…

Baby I was naive
Got lost in your eyes
And never really had a chance
My mistake, I didn’t know to be in love
You had to fight to have the upper hand
I had so many dreams
About you and me
Happy endings
Now I know

Ya, aku sangat naif, aku tersesat di mata kak Arjuna yang kata orang amat mirip dengan mataku. Aku bermimpi kisah antara aku, Srikandi Maurina dan Arjuna Abimanyu akan berakhir dengan indah. Tapi itu hanya mimpi… Kenyataannya?

Cause I’m not your princess, this ain’t a
fairytale
I’m gonna find someone someday who
might actually treat me well
This is a big world, that was a small town
There in my rear view mirror disappearing now
And it’s too late for you and your white horse

Aku Srikandi, dan kau Arjuna. Seharusnya kita berjodoh, bukan?

Tapi ini bukan kisah perwayangan, ini juga bukan dongeng, dimana semua cerita akan berakhir bahagia, ini juga bukan hollywood yang gemerlap, di sini hanyalah kota kecil dimana aku terperangkap untuk jatuh cinta pada Arjuna yang salah. Dan sekarang, semuanya berlalu.

Sesuatu di meja, sebuah benda kecil yang berkilau seakang memanggil-manggil namaku, aku mendekat, aku tertawa-tawa seperti orang gila.

Aku menggoreskan benda kecil berkilau itu ke pergelangan tangan kiriku, setelah itu aku kembali tertawa-tawa dan membuang benda kecil yang disebut silet itu kemana saja.

Now it’s too late for you and your white
horse to catch me now
Oh, whoa, whoa, whoa
Try and catch me now
Oh, it’s too late
To catch me now

Terlambat sudah, Arjuna. Tak perlu kau datang lagi apalagi bersama kuda putihmu. Srikandi sudah mati. Dan dia mati untukmu!

Lagu White Horse berhenti, tapi mendadak aku mendengar Taylor Swift bernyanyi lagi, penggalan lirik Cold As You
yang dibuat olehnya berdengung di pikiranku kala mataku tertutup rapat

I died, died for you… Died for you…

***
Srikandi Maurina, yang mimpinya telah terbunuh
***

Kala itu, aku pikir aku sudah mati! Aku pikir aku akan masuk neraka dan sebelumnya disiksa dulu di dalam kubur. Tapi nyatanya, aku masih hidup? Entah harus berkata apa.

Mamaku terisak bahagia di samping kanan ranjang rumah sakit yang kugunakan. Papa, terlihat menghapus air matanya menggunakan sapu tangan pemberian dariku, di hari ulang tahunnya setahun lalu. Adikku, Bima, ikut-ikutan menangis dipelukan sepupuku, Anna. Anna sendiri yang sedang berlibur ikut menitikkan air mata.

Aku lalu tersadar, aku memang bodoh. Aku mencoba bunuh diri hanya karena cinta? Sementara aku sendiri masih SMA dan masih banyak mimpi yang harus ku kejar?
Dalam hati aku memohon maaf, pada seluruh keluargaku. Aku merasa sangat lemah untuk berbicara sekarang.

Aku juga meminta maaf pada Allah, Tuhanku Yang Maha Esa. Bisa-bisanya aku menyia-nyiakan kesempatan untuk hidup pemberian dariNya. Kesempatan kedua ini tak akan pernah kugunakan untuuk bunuh diri lagi. Aku berjanji.

Dalam hati, aku masih merutuki Alita, satu-satunya yang menyebabkan semua ini, dan berujung pada ketololanku menggoreskan silet di pergelangan tanganku.

***
Arjuna Abimanyu, sang Pecinta Nada
***

Akun twittermu terngiang-ngiang di kala aku mencoba tidur di rumah sakit itu. Tanganku yang keduanya sakit tidak dapat mengetikkan nama akunmu, padahal biasanya aku melakukannya hampir satu jam sekali.

Sang Pecinta Nada, salah satu orang yang membuatku terbaring lemah seperti ini. Tapi apakah kamu tahu? Aku menyukai nama akun twittermu.

Arjuna sang Pecinta Nada. Terdengar sungguh keren. Aku tahu kau memang pemusik. Kau menyukai harmonika dan saxophone. Kau juga bisa bermain gitar. Ingin sekali aku berduet denganmu. Aku memainkan biolaku, dan kamu meniup saxophonemu.

Sayang, itu tidak terjadi.

***

Seminggu telah berlalu. Banyak yang menjengukku di rumah sakit. Bahkan Windu, meluangkan waktunya.

Saat aku keluar dari rumah sakit, saat itulah handphoneku kembali. Dan yang pertamaku buka, adalah Timeline ‘Pecintanada’

Tweetnya dari seminggu lalu hanya bertambah satu.

‘Maaf, aku tak tahu akhirnya akan seperti ini.’

Aku tersenyum simpul.

Lalu, kalau kau tahu akhirnya akan seperti ini, apa yang akan kau lakukan, Arjuna?

Entah kenapa, mimpiku yang dibunuh oleh si pembunuh mimpi, serasa telah bangkit dari kuburnya, dan siap menghantui.

***
Love is something you’ll be bleeding for. Even everybody call it a ridiculous reason, you’ll say loudly, ‘It’s not ridiculous, It’s love.’
***

Hualooooo I’m back with another short story. It’s only a fiction. Kalau mikir yang aneh-aneh inget yaaa ini cuma fiksi :D

minta komennya boleh kaaan? Hehehe leave a comment yaaa :D

follow my twitter @qisqiss. Mention for a follow back



  1. ceritanyaqisti posted this


When I'm in doubt, I write. | catch @qisqiss on twitter | http://marvelousqisti.tumblr.com | http://melancholyqueen.tumblr.com | page counter





Powered By: Tumblr Themes | Facebook Covers