ta http-equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8" />
Mes Histoires |
|
Mentari digantikan bulan sudah cukup lama, aku masih duduk di sini, tak ingin pergi ataupun beranjak. Yang lain pun sama. Tak ada yang bergerak, semuanya terdiam, larut dalam air mata masing-masing, entah apa yang mereka pikirkan. Isakan tangis terdengar sesekali. Tak hanya keluar dari orang lain, tapi juga dariku. Mataku tak ingin terbuka, meski tangis ini telah lama terurai. “Ya Allah…. Ya Allah…. Laillahaillah….” Lafadz-lafadz Sang Maha Pencipta terdengar di sela-sela isakan mereka. Aku takjub. Aku bahkan tak sanggup melafadzkannya. Bibirku bergetar dengan hebatnya. Tak ada yang keluar selain isakan. Jadi…. Seperti inikah rasanya? Jilbab ini kurasa sudah waktunya untuk diganti. Dia basah terkena tumpahan tangis. Tapi aku bahkan tak ingin bergerak. Aku hanya ingin menengadahkan tangan ini, dan berdoa. Berdoa, dan berdoa. Tapi tak ada kata lain yang aku keluarkan selain “Ya Allah…. Ampunilah aku… Ampunilah aku… Ampunilah aku….” Aku menarik nafas perlahan, mencoba meredakan isakan yang tak terhentikan ini. Setelah merasa cukup lega, aku kembali menengadahkan tangan, dengan mata yang masih tertutup, menunduk tak bernyali untuk mendongak. “Ya Allah ampunilah segala dosaku, jauhkanlah aku dari segala godaaan syaitan yang terkutuk… Ya Allah, istiqomahkanlah aku, biarkan aku tetap ada di jalan lurus-Mu, hukumlah aku jika hati ini berbelok daripadaMu, tampar aku jika aku merindukan seseorang melebihi rinduku padaMu dan rasulMu. Dan jika engkau mengijinkan, aku meminta teman hidup yang bisa terus mengingatkanku, bahwa hidup ini sementara, dan hanya Engkaulah yang kekal.” Setelah menggumamkan amin, aku membuka mataku yang berat ini. Terlihat langit malam kota Mekkah yang indah. Tak pernah terbayangkan sebelumnya aku bisa sampai ke sini dan melihat Baitullah dengan indera yang dirahmatkanNya padaku. Beribu-ribu kalimat syukur pun tidak cukup untuk bersyukur atas nikmatnya kali ini. **** *** Well, she was precious like a flower *** Menangis? Haruskah? Gadis bernama Sophie itu mati rasa. Dia tidak tahu apa yang harus dia perbuat, atau apa yang harus dia pikirkan. Seakan masuk ke lubang hitam, semuanya gelap. Mata perinya memandang kosong ruang hampa. Menangis? Tidak. Dia bukan anak manja yang menangis karena hal ini. Alhasil, hanya tarikan dan helaan nafasnyalah yang terdengar di kamarnya yang sunyi. Tidak ada suara piano, atau pun gitar yang biasa dia mainkan dengan riang. Tidak. Tidak untuk malam ini, batin Sophie sendu. *** Stupid boy, you can’t fence that in *** Tak pernah kah dia ingat, bagaimana aku ada, saat dia membutuhkan? Tak ingatkah bagaimana aku berdoa untuknya, bahkan saat dia tidak meminta? Sophie membatin kesal. Bagaimana bisa hanya karena dia, dia dapat merasa kehilangan identitasnya seperti ini? Tenggelam dalam pikirannya, merasa gelap dalam hatinya. Ini bukan Sophie yang dia kenal, ataupun orang-orang ketahui. Sophie berjalan ke beranda kamarnya. Udara dingin malam hari langsung menusuki tulang-tulangnya. Tapi Sophie bergeming. Dia membiarkan udara dingin itu menghempas di badannya. Bintang-bintang dan bulan, pemberi cahaya malam, sama sekali tak membuatnya merasa baikan. Padahal biasanya, hanya dengan menatap bintang yang bertaburan, suasana hatinya akan membaik begitu saja. Helaan nafasnya kembali terdengar. “Ini bukan Sophie. Bukan. Ini bukan aku. Bukan. Bukan Sophie. Bukan aku.” Sophie menggumam. Bahkan langit pun tahu duka Sophie. Sophie yang begitu polos, Sophie yang begitu naif. Sophie yang berbeda dari gadis-gadis lain. Sophie is just an innocent girl with a broken heart now. *** So what made you think you could take a life *** “Kamu mau aku temani?” Teringat lagi percakapan yang tak sengaja di dengarnya. Dan Sophie menghembuskan kembali nafasnya. Sekali dua kali, tak apa. Sophie tak cemburu bahkan marah. Tapi berkali-kali? Sophie kini mempertanyakan hati lelaki itu. Apakah masih sama? Ataukah Sophie hanya dipermainkan? Ataukah lelaki itu sebenarnya tak pernah menaruh Sophie di hatinya? Saat Sophie bertanya “jika orang yang pernah menjadi sangat berarti untukmu datang lagi, apakah kamu akan kembali.padanya, atau tetap bersamaku?” dan lelaki itu menjawab “dia sudah meninggalkanku, dan aku menyukaimu”, Sophie tak seharusnya percaya. *** Oh, you always had to be right but now you’ve lost *** Sophie menunggu. Dia menunggu ponselnya untuk berbunyi. Tapi, dentingan yang ia tunggu tak juga terdengar. Cukup sudah, batinnya. Sophie mengambil gitarnya. Dia sudah cukup menyesali kesalahannya. Sekarang, dia ingin lelaki itu tersadarkan, bahwa Sophie sudah lelah, Sophie tidak ingin lagi terikat apapun dengannya. Batas kesabaran Sophie telah mencapai puncak. Dia tidak ingin kesabarannya habis hanya karena hal kecil seperti ini. Sophie mengambil smartphone-nya. Dia membuka aplikasi perekam suara. Setelah menekan ikon “record”, petikan gitar dan suaranya yang merdu kembali terdengar di kamarnya ini. You say love You tear me down and I break and I break and I break If that’s love, I’m giving up It’s like you said before “It’s nothing personal” Sudah. Notifikasi yang dia baca nyanyiannya sedang diunggah. Link-nya secara otomatis akan terbagi ke akun twitter dan facebooknya. Sophie berharap lagu yang singkat itu cukup. Cukup menjelaskan bahwa Sophie lelah. Sekarang yang Sophie inginkan hanyalah menata hatinya lagi. Dia menganggap masalah ini sudah selesai, dan saatnya memulai hidup baru. Dan Sophie tidak akan membuka hatinya untuk siapapun, setidaknya sampai dia percaya lagi lelaki yang tulus mencintainya itu ada. Dan jika suatu saat lelaki itu sadar, dan berbalik kepadanya, Sophie sudah tidak ada di sekelilingnya lagi. *** She laid her heart and soul right in your hands It took awhile for her to figure out she could run *** *** Kau ingat? Dapatkah kau mengingatnya? Jatinangor 2007, hujan, petir, aku, dan kamu. Hujan di sore hari membuat Jatinangor seperti mencekam. Gelap dan dingin. Kau, berlari, dan berteduh di sampingku. Wajahmu nampak kesal saat menutup payung dan membersihkan bajumu dari percikan-percikan air hujan. Sesekali kau menengadahkan tanganmu sambil menatap langit abu, sepertinya kau sedang menantang langit dan seisinya. Akhirnya kau memilih duduk, cukup dekat dariku. Memang di situ bukan hanya ada kita. Tapi aku merasa ada benang merah yang bertaut di kelingking kita, saat itu juga. *** Apa kau ingat? Bandara Soekarno Hatta, 2009. Pesawat, tangis, perasaan tak ingin ditinggalkan, aku, dan kamu. Kau lebih tua dua tahun dariku, tapi kau memintaku untuk menemanimu ke bandara. Melepasmu pergi menggapai mimpimu. Keluargamu, yang tak pernah setuju dengan ambisimu, begitupun keluargaku, akhirnya luluh dengan pencapaianmu selama ini. Aku pun tak heran, aku punya beberapa hasil karyamu, yang tentu saja kau berikan padaku, dan semuanya tentang aku, harus kuakui tidak ada yang bisa membuat karya seperti itu, selain kau. Lambaian tanganmu menghantuiku. Aku tak pernah suka ditinggalkan. Menatap punggungmu yang mulai menjauh, aku berusaha tidak mengalirkan air dari mata yang selalu kau bilang mata peri ini. Meskipun aku tahu keluargamu takkan keberatan, karena mereka pun sedang menyeka air yang membasahi pipi mereka. *** Central Park, 2013. Orang-orang yang berlalu lalang, tawa yang hangat, langit biru yang cerah, aku, dan kamu. Aku mengulum senyum melihatmu yang asik menyesap kopi sambil mengetikkan sesuatu di laptopmu. Kau memang selalu pintar memilih lokasi untuk bekerja. Dan itu menguntungkanku. Senyummu yang manis tersungging di wajahmu yang sudah lama aku rindukan. Sudah lama kita berjumpa tapi aku bahkan tidak berani melangkahkan kaki ke arahmu. Aku hanya duduk di sini, melukis kegiatanmu. Namamu sudah sering kubaca diberbagai majalah ternama. Artikel, essai, prosa, opini, dan fiksi, aku pernah melihat namamu dihampir semua rubrik. Kau sudah sukses. Aku turut berbahagia. Dan benang merah kita masih terpaut, bukan? *** Central Park, 2013. Kopi, gemericik air sungai, harum bunga-bunga yang mekar, aku, dan kamu? Surfing di internet sudah menjadi kegiatanku sehari-hari. Apalagi sejak aku tahu karya-karyamu mulai dicari kolektor-kolektor penting di dunia ini. Tak hanya lukisan, foto-foto hasil jepretanmu pun begitu. Apa kau masih di Italia? Apa kau pernah melukisku di sana? Aku memandang sekeliling, seorang pelukis berkacamata sedang duduk di sebrangku. Hatiku berdesir. Apa itu kau? Pelukis itu melepas kacamatnya, dan menatap lurus ke arahku. Dia tersenyum. Aku terdiam. Itu benar-benar kau? Aku pikir benang merah kita sudah terputus, ternyata tidak, benang merah ini hanya semakin memendek, karena orang yang selalu aku tunggu, sudah berada di dekatku. Setiap langkahmu menuju ke arahku, satu senti benang merah yang terpaut dari kita hilang, sampai akhirnya, tak ada lagi benang merah, tapi jemari kita yang saling bertaut. *** Tagged as:
flashfiction,
*** I bet this time of night you’re still up. *** Hey. Apa kabar? Mungkin agak aneh untukmu. Yah… Selama ini aku tidak pernah mengirimimu surel dan tiba-tiba kamu menemukan ini di kotak masuk surelmu. Semoga kamu tak keberatan. *** Lagu I Almost Do dari Taylor Swift mengiringiku di tiap gerakan jariku. Sesekali aku menghela nafas, kemudian memandang keluar jendela. Ini pukul satu dini hari dan jalanan masih saja ramai. Yah… New York, “The city that never sleeps”. Aku sendiri mulai terbawa kebiasaan buruk NYers, begadang. Euh, tidak sebenarnya. Aku tidak pernah suka begadang. Hanya saja tiga bulan kemarin aku tidur selalu larut karena mengerjakan tugas kuliahku. Dan efeknya, aku insomnia sekarang. Aku menyesap lagi kopiku yang mulai dingin. Yeah, go on and laugh at me. Aku tahu aku insomnia dan aku meminum kopi. Apa ada yang lebih parah dari kebodohanku ini? Well, saat ku lihat berita negara asalku, Indonesia, ada pengumuman dari kementrian dalam negeri kalau e-ktp tidak boleh difotokopi sering-sering karena bisa menimbulkan kerusakan pada chip yang ada di dalamnya. Well, that’s funny enough. Itu mungkin bisa menyaingi kebodohanku yang satu ini. Damn. Kenapa jadi bahas pembodohan publik yang satu itu, lebih baik kembali ke surelku untuknya. *** Apa kabar? Okey. A bit funny I’m asking this question twice. But I’m really curious about how you are there. Lama sekali rasanya aku tidak berbicara denganmu. Bahkan dulu saat sekampus denganmu pun, rasanya jarang kita berbicara, ya? Padahal dulu di SMA, rasanya hampir semua hal kita bicarakan. Yah, meskipun hanya melalui sms dan chat di facebook. Hahaha. *** Helaan nafasku kembali terdengar. Yang dulu-dulu itu yang membuatku seperti ini. Aku terdiam sesaat, mendengarkan suara Taylor Swift yang masih mengalun lembut dari laptopku. *** And I just wanna tell you *** Aku kangen adikmu yang lucu itu. Apa kabar dia? Duh. Aku basa-basi banget ya? Habis gimana. Aku udah lama juga ga berkomunikasi denganmu, kan? Jadi aku bingung lagi memulainya. Aku ingin menjalin lagi silahturahim yang sempat putus. Well yeah, salahku juga tidak membalas surelmu yang… emm… dua bulan lalu ya? Maaf. Aku ingat kau mengirimiku surel. Tapi dua bulan lalu aku sangat sibuk, tugas kuliahku di sini sedang banyak-banyaknya. Jadi aku tidak membalas surelmu. Kamu boleh marah padaku. Toh, itu salahku juga kan? Aku lupa isi surelmu waktu itu. Tapi kau pasti menanyakan kabarku kan? Oke kalau kau tidak menanyakannnya aku yang terlalu percaya diri ini akan terjun bebas dari patung Liberty. Aku baik-baik saja di sini. Meskipun muslim menjadi minoritas, aku tetap dapat beribadah dengan tenang. Tapi aku rindu sekali suara adzan. Di sini, yang dapat kudengar hanyalah adzan dari laptop. Itu pun kalau aku sedang di apartemen. Sedih ya? Setidaknya di Bandung, meskipun tampaknya kemacetan di sana sudah satu tingkat di bawah Jakarta (atau sudah sama?) kamu masih bisa mendengar adzan berkumandang di setiap sudut kota. Kamu bilang dulu kamu juga ingin ke sini kan? Bagaimana? Apa sudah menemukan beasiswa yang cocok untukmu? Atau mau aku bantu carikan? *** Jariku berhenti mengetik. Seketika aku membaca ulang surelku. Astaga, ini benar-benar basa-basi. Omonganku ngelantur ke mana-mana. Ternyata memulai sebuah percakapan tidak semudah yang kukira dan dengan bodohnya, aku tidak membalas surelnya dua bulan lalu itu. Pasti dia membuatnya susah payah seperti aku saat ini. Apalagi, dia sama sekali tidak menyukai tetek bengek tulis menulis. Aku seharusnya menghargainya dengan membalasnya, walaupun singkat. Kebodohan yang lain dari seorang Karenina. Lirik mulai berganti lagi. Aku hapal bagian ini. Ampas kopi sudah mencapai dasar cangkir, sebaiknya aku menyelesaikan ini terlebih dahulu sebelum membuat another cup of coffee. *** I bet you think I either moved on or hate you *** Aku benar-benar berharap kau tidak marah. Aku benar-benar sibuk saat itu sekarang surelmu mungkin sudah ada di halaman ke sembilan puluh sembilan di kotak masukku. Aku bukan tak ingin membalas surelmu. Maafkan aku ya? Aku mengetik surel ini pukul satu dini hari. Hahaha ya kalau aku masih di Indonesia pasti kau akan marah karena sudah selarut ini dan aku belum tidur. Tapi ini NY, bung! Kau bisa saja tidak tidur semalaman dan keesokan harinya kau harus bekerja atau sekolah. Aspirin di sini laku keras tampaknya. Tak heran banyak orang-orang obesitas. Hahaha penarikan kesimpulanku kacau ya? Maaf aku tidak belajar tentang kesehatan sepertimu. Kamu boleh memarahiku atas kesoktahuanku ini detik ini juga. Kuliahku di sini menyenangkan sekali. Bertemu dengan banyak orang dari berbagai belahan dunia. Bahkan aku bertemu yang dari Mesir. Dia muslim jadi kita seperti memiliki keterikatan dan kontak batin. Mungkin itu juga salah satu kemudahan Allah yang diberikanNya padaku selama aku di sini. Ada yang menguatkanku tentang minoritasku ini. Well… Tampaknya yang tadi kubahas itu-itu saja ya? Kamu sendiri, masih suka bangun tengah malam memandang keluar jendelamu dan Maafkan aku ya, atas segala hal yang terjadi dulu dan atas suratmu yang tak kubalas itu. Kuharap kita bisa berbalas surel seperti ini terus. And sometimes I’ll send you postcards if you want to. Entah kapan aku bisa pulang. Mungkin tiga bulan atau enam bulan lagi. Aku memilih mengambil kelas musim panas dan libur di musim dingin. Jadi…. Aku menunggu kabar darimu, Tama. Regards, Karenina. *** Aku meninggalkan laptopku untuk membuat lagi secangkir kopi. Aku benar-benar insomnia dan aku bersyukur. Aku sedang tak ingin tidur dan memimpikan kembali wajah Tama. Ya, aku memimpikannya. Karena itu aku menulis surel untuknya. Padahal aku takut memulai kembali hubungan dengannya. Aku takut akan adanya perpisahan yang lain dengan Tama. Semoga Tama tahu, aku masih memikirkannya. Saat aku memainkan ponselku aku hampir menelponnya. Saat aku membuka facebook-ku aku hampir membuka profile-nya. Suara dentingan kecil muncul dari laptopku menandakan adanya surel baru yang masuk. Aku, yang sedang duduk di pinggir jendela, menatap suasana malam kota New York sambil menyesap kopi panas kini sudah kembali duduk di depan laptop. Terkaget melihat surel baru dari Tama. “Hey, this is Tama Makky Muhammad. Thank you for your email. I’ll reply it soon.” Ah, dia menggunakan penjawab otomatis. Aku hampir saja berteriak girang karena dia menjawab surelku secepat ini. Semoga Tama tahu, setiap kali aku tidak menyapanya, membalas surelnya, atau mengajaknya chatting di Line, Whatsapp, Skype, dan lain-lain…. I really hope he knows that I almost do. *** Oh, we made quite a mess, babe. And I just wanna tell you I almost do. *** Hello I’m back with another one shot hehe hope u’ll like it. I’m waiting for ur comments and advices at http://ceritanyaqisti.tumblr.com/ask or via twitter @qisqiss merci beaucoup :* **** Cinta bisa ditemukan pada dua orang yang awalnya tak saling sapa, tak saling senyum, bahkan tidak kenal, hanya memandang secara sembunyi-sembunyi orang yang dikaguminya, mengulum senyum, berteriak gembira di dalam hati, terkadang mengumpat jika ketahuan. Di sinilah awal mula kisahku, aku sedang duduk di kantin fakultas, menyesap perlahan-lahan kopi tubruk yang baru saja datang, sambil mengulum senyum menatap gadis berjilbab, dua meja di hadapanku ini, secara diam-diam. Gadis itu nampaknya tahu aku sedang mencuri-curi pandangan ke arahnya. Karena terkadang tatapanku ini tertangkap olehnya. Mungkin dia pikir aku ini tidak sopan karena telah memandangnya berulang kali. Tapi aku bisa apa? Wajahnya yang teduh membuatku betah untuk berulang kali menatapnya. Dia tidak cantik, memang. Dia bukan sesosok perempuan yang membuat kita melirik pada pandangan pertama dan langsung menyebutnya cantik. Dia manis. Sangat manis. Awalnya dia terlihat sangat jutek, sinis bahkan. Tapi saat teman-temannya menghampiri dan mereka mulai bercanda dan tertawa, mata menghangat dan dia mulai tersenyum. Senyuman yang manis, seperti wajahnya. Dia seraut wajah teduh yang kuimpikan selama ini. *** Kini, hampir setiap pagi aku duduk di kantin, setengah berharap dia akan duduk lagi, dua meja di hadapanku. Dan harapanku menjadi nyata. Perempuan itu tidak pernah terlihat berdandan heboh seperti mahasiswi lainnya. Tapi dia selalu terlihat rapi. Aku di sini hanya bisa memandanginya. Buatku, perempuan berjilbab memiliki sebuah dinding yang menjulang tinggi. Sangat tinggi. Hanya yang benar-benar memiliki nyali yang bisa meruntuhkannya. Aku belum memiliki nyali itu saat ini. Dia datang lagi, tapi kini duduk membelakangiku, tapi begitu saja aku senang. Apakah kali ini aku benar-benar jatuh cinta? *** I don’t know if it’s going go be an unrequited love, but I can’t handle this. Aku masih mengumpulkan nyali untuk mendekati gadis berjilbab itu. Tapi, susah. Rasanya cukup bagiku untuk hanya mengagumi dia dari jauh, tanpa tahu namanya, tanpa tahu siapa dirinya. Tapi tetap terasa kurang. Padahal jika mendekati perempuan-perempuan lain rasanya biasa saja, berkenalan dengan mereka pun gampang. Aku tak harus mengumpulkan nyali selama ini. Ini minggu ke tiga dan aku masih memikirkannya. Aku sadar ini bukan rasa yang biasa. Ini sangat tidak biasa. Dia adalah sang pemilik wajah teduh yang sedang aku lamunkan. Saking kagetnya, aku tak sempat berucap apapun selain kata “maaf”, dan dia membalasnya dengan anggukan kecil dan senyum yang kaku. Tak ada sepatah kata pun yang terlontar darinya. Ya Tuhan, kenapa kau menciptakan makhluk seteduh dia di muka bumi ini? *** And you’re shining in the distance, *** Kali ini aku berkutat dengan kamera kesayanganku. Ya, aku memang mencintai fotografi. Aku bahkan mengikuti dua UKM fotografi, di fakultas dan di kampus. Saat ini aku sedang menunggu seorang teman di salah satu kafe dekat kampusku. Dia kakak tingkat, tepatnya dua tingkat di atasku. Fotografi membuat kami berdua sangat cocok. Aku sedang melihat ulang foto-foto yang ada di kameraku saat teman yang kutunggu-tunggu akhirnya datang. Tunggu, dia tidak sendiri. “Heh Banyu! Pakabar lo?” Kakak tingkatku, yang adalah seorang perempuan berambut sebahu ini duduk di samping kiriku, dan orang yang tadi datang bersamanya duduk di hadapaku. Oh Tuhan. “Baik lah. Kak Diana apa kabar? Udah lulus jarang kumpul sama anak-anak fotografi nih.” Jawabku, berusaha mengabaikan orang yang bersamanya. “Ya kali gue kan sibuk cari kerja. By the way, Banyu, kenalin nih, sepupu gue, dia fotografer juga. Pasti bakal asik deh kalau kalian berdua ngobrol. Dia ga pernah ikutan klub-klub fotografi tapi hasil jepretannya bagus-bagus. Parah emang gue ngiri. Satu fakultas tapi beda jurusan sama lo dan dia masih maba.” Aku mendengarkan ucapan Diana sambil mencuri-curi pandang sepupunya itu. Dia perempuan berwajah teduh. Dia yang selama ini aku impikan. “Banyu.” Aku mengulurkan tangan kananku ke arahnya, yang kemudian disambutnya sambil tersenyum. “Nayla.” Ya Tuhan, akhirnya aku tahu namanya. *** You give me something **** Hi I’m back! Di tengah kesibukan (yang sebenernya just a poor management of time) aku iseng-iseng bikin cerpen gara-gara tadi duduk di kansas. Parah emang ya :)) tapi pas diliat-liat ini cerpen kenapa kaya tulisan orang baru belajar nulis hiks sedih udah lama sih ga nulis :” need your advices despertely! Please send it at http://ceritanyaqisti.tumblr.com/ask. Thank you :) Xoxo, Qisti
Oh Simple Thing, Where Have You Gone? *** Rindu ini menggebu, mereka bilang ini bukan sekedar rindu. Tapi, apa ada kata lain yang bisa mencerminkan suatu perasaan satu tingkat di atas rindu? Tidak, aku belum menemukannya. Di sinilah aku jika aku merindu, duduk di halte dengan kopi panas di tangan, membiarkan satu persatu bis pergi tanpa menaikinya. Menatapi orang-orang di sebrang jalan berlalu-lalang, memandangi langit yang diam-diam berubah warna. Teman-temanku di sini, mereka selalu memandangku dengan bingung, mungkin bahkan bertanya-tanya di dalam hati, apa yang sebenarnya aku rindukan? Kekasih? Keluarga? Teman? Aku hanya tersenyum. Aku memang merindukan yang mereka katakan. Tapi ada sesuatu, yang selalu membawaku ingin pulang, sesuatu yang kecil, bahkan buat mereka mungkin sama sekali tak ada artinya. Aku merindukan masa di mana aku memetik sebatang Dandelion, meniupnya sambil memohon. Aku merindukan suara air mengalir dari air terjun kecil di bawah jendela kamar tidurku, terkadang membuatku takut saat malam tiba, tapi membuatku tenang di pagi dan sore hari. Aku merindukan segelas jamu kunir asam yang selalu kuminum saat aku mengeluh akan dismenorea-ku yang terlalu parah ini. Aku juga merindukan nasi goreng yang selalu tersedia tiap pagi hari. Dulu aku bosan, sekarang aku sangat ingin mencicipinya lagi. Aku merindukan masa saat aku menemukan tweetmu di tengah malam. Sekarang malamku dan malammu berbeda. Aku merindukan wangi bunga Sedap Malam dan bunyi takbir setiap malam lebaran, tak lupa pula shalawat anak-anak pengajian dari mesjid di belakang rumahku setiap malam minggu. Aku rindu melihat bintang dari jendela kamarku, sesuatu yang selalu kulakukan di kala sedih, dan aku akan tersenyum lagi, seakan bintang itu adalah satu-satunya alasanku untuk ceria. Aku merindukan suasana siang kampus biruku, saat orang-orang kelaparan berebut tempat duduk di kantin, tak bisa sabar karena perut sudah meronta. Aku juga merindukan daun yang jatuh ke kepalaku setiap angin berhembus begitu kencang kala aku sedang duduk di bangku biru, menunggu dosen dan pergantian kelas. Aku merindukan datang jam enam pagi ke SMAku, mempersiapkan bendera dan segala tetek bengek upacara setiap hari senin, tak lupa aku merindukan menertawakan teman-teman yang terlambat. Aku merindukan melamun di depan kelasku, terduduk sambil menatap langit biru, tak lupa sambil mendengarkan lagu-lagu Taylor Swift kesukaanku. Aku rindu asmaul husna bersama di pagi hari, aku juga rindu akan udara sejuk yang selalu kudapati setiap aku melewati jalan Urip, dengan baju putih biru. Aku rindu langit Indonesia, aku rindu tanah Indonesia. Aku rindu berdesak-desakkan di bis setiap pergi kuliah, aku rindu kamu juga. Balon-balon berterbangan di langit biru, entah dari mana datangnya, membuat aku makin merindukan hal-hal biasa, yang kuanggap istimewa. *** Dans le courage et pour l’hommage **** Photo courtesy of tumblr.com
Mimpi. *** Mimpi? Apa arti kata “mimpi” untuk seseorang seperti aku? Seseorang yang sejak kecil didesain untuk mengikuti jejak kedua orang tuanya? Bermimpi tak ada artinya. Hanya sebuah kesia-siaan. Tak akan pernah terwujud. Mimpi? Apa artinya “mimpi”untuk seorang yang seperti aku? Yang setiap kali bermimpi ia kalah dengan dunia, kalah dengan realita. Bermimpi untukku seperti kau ingin masuk ke dalam sebuah rumah, tapi tak ada pintu atau pun jendela yang terbuka. Mimpi? Apa artinya “mimpi” untukku? Saat bahkan semua orang melawan mimpiku ini. Berkata bahwa aku tak akan bisa, berkata bahwa aku tak pernah pantas. Bermimpi tak akan pernah menyenangkan, hanya seperti anak kecil yang melompat ingin menangkap balon, tapi urung karena orang di sekitarnya berucap, “Percuma saja! Balon itu akan terbawa angin saat kau sudah lebih tinggi.” Mungkin, mimpi adalah harga mati bagiku, dan juga, sebuah keberanian. **** Photo courtesy of imgfave.com
Musim Dingin - Terjebak *** Aku sedang memikirkan kamu, saat salju ini mulai turun. Dinginnya salju-salju ini mungkin sama dengan dinginnya pandanganmu, yang tak akan pernah bisa aku lupakan. Tatapan dinginmu itu menusuk layaknya setiap butiran salju yang tak sengaja mengenaiku ini. Bahkan mungkin, salju-salju ini kalah dinginnya. Setidaknya, sebelum butiran-butiran keperakan ini jatuh ke bumi, musim panas terlebih dulu berubah menjadi musim gugur, sehingga orang-orang bersiap untuk menghadapi datangnya musim dingin. Beda dengan kamu. Matamu yang hangat berubah dingin secara tiba-tiba. Aku tak pernah lebih kecewa dan sakit hati sejak saat itu. Langit hitam masih menurunkan butiran-butiran putih, aku berjalan di antaranya dan aku juga tenggelam di dalam dua waktu, yang lalu dan yang kini. Aku terjebak di antaranya, dan salju-salju ini sama sekali tak membuatnya lebih baik. Aku terjebak. Tak bisa kah kamu melepaskanku? Aku terjebak. Bisa kah matamu kembali lagi seperti dulu, saat beradu pandang dengan mataku? Aku terjebak. Tolong… **** Photo courtesy of: imgfave.com
Musim Semi - Berubah *** Musim gugur berganti salju, salju yang turun berganti hujan. Bulan Februari berganti Maret, hanya hal-hal kecil yang selalu orang-orang hiraukan. Tapi akhirnya membuat perempuan itu menyadari semuanya berubah. Tak hanya musim yang berubah, tapi usia, sifat, keinginan, semuanya berubah. Apalagi perasaan, yang kebanyakan orang bilang “cinta”. Dua tahun sudah perempuan itu berusaha melupakan, tapi dia tidak pernah bisa. Melupakan bukanlah keahliannya. Akhirnya dia mencoba membiarkan waktu mengubah perasaannya, tapi tidak ada yang berubah. Tetap. Perasaan itu masih ada di dalam hatinya. Dia lelah, telah dia upayakan segala cara untuk mengubahnya, mengubah cintanya pada lelaki itu. Tapi tak bisa. Cinta memang kuasa Tuhan, tapi manusia selalu salah mentafsirkannya. Mungkin hal itu yang membuat perempuan itu menunggu dengan setia, dari musim semi ke musim semi yang lainnya. Dua tahun perempuan itu menahan cemburu, dua tahun pula dia menahan segalanya di dalam hati. Sampai dia terbangun dari tidurnya di saat hujan pertama di musim semi yang meluruhkan salju yang berhamburan, dia bangun dengan ikhlas, berpasrahkan diri pada Tuhan Yang Maha Pengasih, karena dia percaya lelaki yang terbaik akan datang di saat yang terbaik pula. Seluruh bebannya ikut luruh seiring salju yang juga mencair. Dia tidak akan membebani hatinya lagi kini. Saat dia duduk memandang ke luar jendela kamarnya, dia tersenyum dan tersadar, bahwa semuanya telah berubah. **** Pic courtesy of tumblr.com
Kosong *** Bangku itu masih tegak, berdiri terjatuhi daun-daun yang kemerahan, kayunya masih kokoh walau usianya sudah cukup tua. Hampir tiga tahun ini tak ada yang mendudukinya, apalagi di musim gugur seperti ini, saat kebanyakan orang lebih memilih duduk di depan televisi mereka, bercengkrama dengan anggota keluarga, atau duduk di kamar, berselancar di internet sambil meminum segelas teh hangat. Kekosongan tampak sangat jelas dari kursi itu. Batin terkadang bertanya, apakah kursi bisa merasakan kesepian juga layaknya manusia? Teringat lagi empat tahun lalu, seorang pemuda sering duduk sambil mendengarkan lagu melalui headphone-nya dan membaca buku di sana. Tak peduli dengan angin dingin musim gugur, pemuda itu selalu ada di sana, di minggu pertama dan kedua. Wajahnya tampan dan terlihat sangat menyukai ketenangan. Di minggu ketiga dan keempat, seorang gadis menggantikannya. Gadis berambut sebahu itu duduk di sana sambil melukis. Terkadang menggunakan kanvas, atau pun hanya melukis sketsa. Selalu begitu setiap bulannya di musim gugur, sehingga kursi itu tak pernah terlihat sepi seperti ini. Pemuda dan gadis itu mengisi kekosongannya. Dan kini sudah hampir tiga tahun, bahkan sampai dedaunan yang jatuh digantikan oleh salju, mereka tidak pernah kembali. Apakah mereka tak merindukannya? *** Photo: courtesy of http://entrytoneverland.blogspot.com |
|
|