ta http-equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8" /> Mes Histoires
Photography Tumblr Themes
Next Page

Mes Histoires


 

July

***

Di sini, di tempat ini, kau dan dia bertemu. Tatapan pertama bagimu biasa, sampai datang detik di mana kau benar-benar menatap matanya.

"Ouch." Gadis berambut sebahu itu mengaduh, ia terjatuh tepat di depanmu. Amatir, batinmu meremehkannya. Tapi, kau mengulurkan tanganmu juga, yang membuat gadis itu mendongak menatapmu.

Matanya berbicara, pikirmu saat itu. Matanya sendu, ada kerinduaan di sana. Tapi, kebahagiaan tampak jelas di mata sendu itu.

Mau tak mau, kau tersenyum.

"Pertama kali?" Kau melontarkan pertanyaan setelah ia berdiri, yang dijawab gelengan kepala gadis itu.

"Sudah lama gak main." Jawabnya singkat, kau mengangguk.

"Thanks, anyway." Tambah gadis itu dengan senyuman di wajahnya, dan lagi-lagi kau hanya mengangguk. Gadis tadi melambaikan tangannya dan kembali meluncur ke tengah arena. Kau, mematung memandangi gerakan lincah gadis itu. Dalam hayi menyesal, kenapa kau tidak menanyakan namanya.

Kau, yang datang untuk berlatih, akhirnya bersandar di tepi, menyaksikan gerakan demi gerakan yang dilakukan gadis bermata sendu itu. Tanpa kau sadari pelatihmu ikut memandanginya.

"Dulu dia cukup hebat. Sayang, setelah kejadian itu dia tidak mau ikut kompetisi lagi."

Ucapan pelatihmu membuatmu menoleh, melempafkan tatapan penuh tanya pada perempuan yang tak lain adalah ibumu sendiri.

"Kenapa?" Kau tidak bisa menahan rasa ingin tahumu. Ibumu, menjawab pertanyaanmu setelah menghela napasnya,

"Rumit." Jawabnya singkat.

"Anyway, namanya sama dengan nama bulan ini. Sana. Berlatih."

Dasar, batinmu. Yang namanya Ibu memang tidak bisa ditipu. Apa saja terlihat olehnya. Tak lama setelah itu kau pun meluncur, menghampiri gadis yang menarik perhatiannya itu.
 
“July?”

Gadis itu menoleh, dan tersenyum.

***

Dear Yuyun

                When I got your letter, satu-satunya yang ada di benak adalah, how nice you are. Sebuah hal yang tidak pernah terpikir adalah mendapat surat karena hasil tulisanku dimuat di suatu majalah. Empat tahun lalu, ya? Maaf baru sempat kubalas. Waktu itu, aku berpikir harus ada waktu khusus membalas surat darimu, karena kau juga meluangkan waktumu untukku. Menulis bukan perkara gampang, yang hanya tinggal mencoretkan pena di atas kertas. Kau meluangkan waktumu untuk memikirkan apa yang akan kau tuliskan untukku, dan aku berterimakasih untuk itu.

                Maaf sekali, butuh waktu empat tahun untukku membalas suratmu. Ya, aku memang pelupa, dan ceroboh. Bukan aku tak ingin berteman denganmu, tapi suratmu, yang aku selipkan di buku rangkumanku, baru kutemukan lagi akhir-akhir ini. Jadi, tolong maafkan kecerobohanku. Tapi, kalau bukan karena ridho Allah, kita tidak akan bersua juga, meski hanya sebatas di dunia maya.

                Thanks, Yuyun. Dalam suratmu, kau bilang kau ingin berteman. Tidak sadarkah kau bahwa kita sudah? :)

Cimahi, 29 Juni 2014

Temanmu, Qisti.               



*** 

Satu langkah lagi, and i’m gonna find you. 

Kukirim tweet tersebut setelah keluar dari gedung kedutaan besar  Inggris, mengurus visa untuk berangkat ke sana. Helaan napas legaku keluar, saat menatap langit ibu kota yang sebentar lagi akan kutinggalkan, meski sebentar. 

It’s been a long time, aku kembali mengulang kalimat itu dalam hati. Perasaan rindu ini sudah teramat sangat dan aku ingin pergi ke sana, ke kota yang amat kita sukai. 

Sebuah taksi berhenti di hadapanku setelah beberapa menit aku menunggu. Tak lama aku sudah duduk di dalam kabin, memandangi gedung-gedung yang lama-lama semakin samar, sambil mendengarkan kumpulan lagu dari album Abbey Road, your favorite.

*** 

“Lo gila.” Ujarku saat tahu lelaki di sampingku ini dapat beasiswa di Oxford University. “Lo gila.” Ujarku lagi, spontan. Lelaki yang hari ini memakai jeans yang sudah bolong di bagian lututnya, dipadukan dengan polo shirt hitam dan rambut acak-acakan yang tak sempat di sisir tertawa mendengar reaksiku. Perlahan ia menepuk-nepuk kepalaku. 

“Jangan ngiri gitu dong gue duluan ke enggres.” Dia berkata dengan nada candanya yang khas, membuatku makin cemberut. 

Aku bukan iri… 

“Ntar gue bakal sering-sering ngirimin lo postcard deh, pake perangko yang beda-beda. Masih filateli kan lo? Ah elah hari gini filateli, ngeribetin gue mulu lo. Baik kan gue? Mau kirimin lo postcard yang gue jamin biayanya mahal buat kantong mahasiswa pas-pasan kaya gue?” ia mengakhiri candaannya dengan tawa. 

“Bukan gitu, Bayu…. Nanti siapa yang nemenin gue ke dokter hewan ngurusin Birry yang sakit?” aku mengerling ke arah kucing kampung-persiaku yang sedang tertidur pulas, kemudian kembali menatap Bayu,

“terus yang nganterin gue ke kosan kalau kemaleman dari kampus? Yang nemenin gue makan pecel lele di pinggir jalan kalau gue udah mulai kehabisan duit? Yang nemenin gue pas nangis saat orang tua gue berantem lagi…?” 

Mungkin karena suaraku mulai lirih, Bayu mulai menepuk-nepuk puncak kepalaku lagi, yang biasanya membuatku tenang, kali ini membuatku ingin menangis. 
“Temen lo banyak, ga cuma gue. Lagian cuma mau gue tinggal sebentar doang, berasa kayak bakal kehilangan gue selamanya aja lo, Na.”

***

It is, Bay. It feels like… I lose you forever. 

Kirana memandangi tiket yang kemudian ia selipkan ke dalam pasport, sebentar lagi, ia akan terbang menuju tempat Bayu tinggal selama tiga tahun ini dan tidak pernah pulang.

Ia harus ke Inggris. 

Ia harus bertemu dengan Bayu. 

*** 

Bayu dan aku sama-sama menyukai The Beatles, sama-sama menyukai Sherlock Holmes, juga Harry Potter. Seringkali kita berdebat tentang siapa Jack the Ripper sebenarnya, dan berkhayal sekolah di Hogwarts. Tapi dia tidak sepertiku, yang memiliki keinginan terbesar untuk foya-foya, shop ‘til I drop di Harrods, Mall terbesar dan termewah di Inggris. Aku juga tidak seperti dirinya, yang memiliki mimpi berfoto di setiap lapangan sepak bola di Inggris. Manchester, Liverpool, ah,I’m not him. I don’t understand why he really loves them all. Dia pun begitu, seringkali protes “ngapain sih belanja barang-barang yang sebenernya kw nya banyak di mangga dua?” 

Sudah setengah perjalanan, aku masih mengudara. Hanya awan-awan yang kulihat saat ini. Aku tak sabar untuk tiba di sana. 

Aku melirik tas pasportku. Di dalamnya terdapat juga kartu pos terakhir darinya. Mengingat isinya aku hanya bisa termenung. 

Sebentar lagi, Bayu. Aku akan tiba. 

*** 

So, how are you? 

Baru saja aku keluar dari bandara, dan sekarang aku duduk di kursi belakang mobil tanteku yang akhirnya bertemu denganku juga setelah 15  tahun tak bersua. A bit of awkward moment, but now we’re talking a lot of things. And Bayu is on the top of the list. 

She keeps asking me how are you while I keep questioning the same question. Postcard terakhir darimu hanya memintaku datang ke inggris secepat yang aku bisa, setelah itu kau menghilang tanpa kabar. Even you deactivated your twitter account. I don’t know where to find you. 

Apa kau sedang membuat skenario, Bayu? Bahwa aku harus mencarimu ke tempat yang kita impikan bersama dan kau akan tiba-tiba muncul secara dramatis? 

“Tomorrow, tante antar kamu ke Abbey Road.” ia berkata sambil tersenyum lewat spionnya. Aku menunduk. Mungkin ia tahu apa yang aku rasakan, akhirnya ia berkata sekali lagi. 

"Honey, be strong."

***

So here I am, in the Abbey Road. Alasan utama kita kenapa kita harus pergi ke sini. Inget ga sih, Bay? Sekarang yang aku lihat adalah orang-orang yang berfoto mengikuti gaya legendaris The Beatles di sampul albumnya.

Tanteku menyodorkan satu cup kopi panas kepadaku, ia tersenyum lalu menyuruhku bergaya di zebra cross ternama  itu. Dan setelahnya, ia membawaku ke Baker Street, tempat lain yang menjadi alasan kita harus pergi ke Inggris. Aku hanya duduk di sampingnya, memandangi jalanan kota London, mencoba menemukan kepingan-kepingan memori yang kulewatkan saat aku tidak bersamamu di sini.

Dalam diam aku mengeluarkan kartu pos terakhir darimu, gambarnya London Eye, dan  membaca kembali tulisan tanganmu yang sering aku cela.

“Be here soon, Kirana.”

Hanya itu yang kau tulis. Aku tidak tahu kau ingin aku segera ke sana agar bisa mengelilingi London bersamamu. 

Maaf, Bayu, maaf…

Dua tahun terakhirmu di sini aku tidak ada di sampingmu…

Hingga akhirnya kau pergi, saat aku belum sempat berada di sini berdua denganmu, bersamamu…

So, here I’m right now…

Akan menemukan memorimu di tempat-tempat yang kau kunjungi tanpaku…

Agar aku pada akhirnya bisa tenang, dan merelakanmu…

***

 

Bismillah #InggrisGratis :)) 



Satu Kata tentang Kita

Part 6. Tersembunyi.

***

Nayla berjumpa dengan Dio untuk pertama kali saat Masa Orientasi Siswa, setahun yang lalu. Mereka satu kelas, bahkan hingga kini. Nayla menyukai suara Dio saat ia berbicara, dan makin menyukainya saat mendengarkan lelaki itu bernyanyi.

Di mata lentiknya, Dio seorang yang supel, banyak teman, mudah bergaul, tapi ada masanya Dio akan menyendiri, sibuk dengan jurnalnya, membiarkan earphone menempel di telinganya berjam-jam. Penanya ia ketuk-ketukkan beberapa kali sebelum akhirnya ia menulis lagi. Nayla ingin sekali membaca isi jurnal itu, tapi dia rasa Dio tidak mengijinkan siapapun mendekati jurnalnya.

Nayla bukan seorang gadis yang senang mendekati lelaki duluan, tapi sejak bertemu Dio, dia tahu dia harus berusaha mendekatinya duluan. Tapi ada satu yang tidak dapat Nayla ketahui, entah apa, mungkin sesekali mata Dio menerawang ke masa lalu yang tak pernah bisa Nayla singgahi. Dia benci hal itu. Dia ingin mengetahui segala hal tentang Dio. Tapi lelaki idamannya itu misterius, ada hal yang tak mau dia bagi, tersembunyi dibalik keramahannya.

Meski ia tidak menyembunyikan perasaannya, Dio tetap tidak melihatnya. Nayla bingung harus berbuat apa.

***

"Misi dong."

Suara ketus seorang perempuan membuatnya mendongak dari tali-tali sepatunya yang belum selesai ia ikat. Si jutek, batin Nayla. Dia pun bergeser dari tempatnya semula, memberi jalan supaya ketua osis nan jutek bisa lewat.

Karen mencibir, ia mengambil sepatunya dan langsung duduk di tempat yang agak jauh dari Nayla, tempat yang sama sekali tidak menghalangi jalan keluar masuk perpustakaan. Nayla tersindir secara tidak langsung. Mukanya bersemu merah.

"Nay?"

Suara yang amat dikenalnya itu membuat Nayla tersenyum, dan langsung berbalik menghadapnya.

"Hey Dio!" Ia tersenyum sangat lebar, mengabaikan wajah datar Dio.

"Kantin?" Ajak Dio singkat, melirik Karen yang sedang memainkan smartphonenya.

"Yuk, aku pengen baso tahu. Kamu mau makan apa?" Nayla bertanya balik sambil berjalan beriringan menuju kantin.

"Soto."

"Kok soto terus sih? Kayak ga ada makanan lain aja."

***

Karen memainkan smartphone-nya asal saj. Dia sama sekali tidak mau bertatap muka dengan Dio. Hatinya teriris melihat kedekatan Dio dan Nayla, tapi ia langsung terdiam mendengar percakapan mereka.

***

"Diooooo! Karen sama Bunda masak soto. Dio mau engga?" Gadis kecil yang giginya ompong itu berteriak dari halaman depan rumahnya, mengagetkan Dio yang sedang asik bermain mobil-mobilannya di teras rumahnya. Dio mengangguk dan berlari ke rumah sahabatanya itu sambil nyengir.

"Emang Karen bisa masak, Bunda?" Dengan polos Dio bertanya pada Bunda, ibu Karen yang tidak pernah ia panggil tante, sebagaimana Karen pun memanggil ibu Dio dengan sebutan Mama. Karen langsung cemberut mendengar pertanyaan Dio, sementara Bunda hanya terkekeh geli.

"Bisa looh. Bunda juga kaget. Bunda sih bantuin nyalain kompor sama motongin bahan-bahannya. Bumbunya Karen yang racik." Sambil tersenyum Bunda menaruh dua mangkuk soto banjar di hadapan Karen dan Dio, yang langsung lahap memakannya sampai habis.

"Karen, sotonya tadi enak banget." Ujar Dio di sela-sela suapan es krimnya.

"Asik. Nanti Karen bikinin lagi buat Dio."

"Janji?" Dio mengacungkan kelingking kirinya, yang langsung disambut kelingking kanan Karen.

"Janjiii."

"Kalau gitu Dio mau coba semua macam soto yang ada di dunia, mau mastiin ga ada yang seenak punya Karen."

"Ih nanti kalau makan soto yang diinget Karen dong?"

"Iya gapapa, kan Karen memang harus selalu Dio ingat."

Keduanya nyengir mendengar pernyataan Dio.

***

Karen menumpukan badannya ke tembok rendah lantai dua, yang menghadap langsung ke lapangan. Kali ini team cheerleaders yang sedang berlatih. Rambutnya yg lurus ia biarkan tergerai, kacamatanya ia gantungkan di saku kemejanya. Soto, yang terlebih buatan Karen, selalu menjadi makanan kesukaan Dio. Terkadang Karen yang masih kecil pun kewalahan memenuhi permintaan sahabatnya itu. Untung Bunda tidak pernah melarang Karen memasak. Bunda malah senang membantu Karen, anak keduanya itu punya banyak bakat, salah satunya di umur yang masih kecil sudah pandai masak.

Dio masih suka makan soto… batin Karen. Apa ini berarti….

Lamunan Karen terhenti saat seseorang meneriakkan namanya dari bawah, memintanya segera masuk ke ruang osis untuk memulai rapat.

***


Http://ceritanyaqisti.tumblr.com/ask



Aku berdiri, mungkin dengan perasaan yang amat riang; aku berada di tempat lain, bukan di tempat asalku. Tapi, ada suatu yang tidak membuat hati ini lengkap. Rasanya kosong. Mungkin karena aku merasa asing,

mungkin karena aku ingin pulang.

***

What would I do without your smart mouth?
Drawing me in, and you kicking me out
You’ve got my head spinning, no kidding, I can’t pin you down
What’s going on in that beautiful mind
I’m on your magical mystery ride
And I’m so dizzy, don’t know what hit me, but I’ll be alright

***

Malam ini, aku menyinggahi jalanan Malioboro. Sebagian orang yang baru menjejakinya, mungkin akan merasa bahagia dipenuhi hasrat untuk berbelaja, tapi tidak denganku. Jogjakarta selalu membawaku bernostalgia, mengarungi jiwa yang tidak pernah aku ingat aku adalah jiwa itu.

Lampu-lampu khas jogja, andong, sapaan dan tawaran hangat para pengais nafkah di jalanan itu membuat jiwa ini makin berdesir; indah, menenangkan, nyaman… merekalah tiga hal yang membuatku selalu ingin mendatangi kota ini, sayang, aku gagal mendapat kesempatan untuk menyelesaikan kuliah di sini.
Aku berhenti berjalan, menutup mata dan menarik napas. Ada yang mengganjal, aku tahu itu. Saat itu pula namamu terbisik, dan senyummu terbayang. Aku selalu mengkhayalkan kita berdiri berdua di sini, di kota ini, di jalan ini.

Rasa sakit itu kembali mampir, rasa sakit setiap kali aku ingat aku telah menyakitimu.

Betulkah?

Ya, kurasa…

***

My head’s under water
But I’m breathing fine
You’re crazy and I’m out of my mind

***

Kita pernah berada di kota ini, di tepat yang sama, di waktu yang sama, tapi kita tidak bersama. Kau bersama teman-temanmu, begitu pula aku bersama sahabat-sahabatku. Saat itu betapa ingin aku berjalan bersamamu hingga ke ujung jalan, dan kembali. Tapi tidak terjadi, dan tidak mungkin akan terjadi. Bukan begitu?

Earphone menyenandungkan Back to December milik Taylor Swift, lagu yang selalu dengan mudahnya mengingatkan aku kepadamu. Padahal aku tahu, tak satupun lagu mengingatkanmu akan aku.

Tidak apa-apa, berterima kasihlah pada Tuhan, ada yang mencintaimu begitu dalam. Bahkan hingga detik ini aku tidak menemukan lelaki yang bisa aku cintai, selain kamu.

***

'Cause all of me
Loves all of you
Love your curves and all your edges
All your perfect imperfections
Give your all to me
I’ll give my all to you
You’re my end and my beginning
Even when I lose I’m winning
‘Cause I give you all of me
And you give me all of you, oh

***

Aku ingin bertemu, pada dirimulah aku menemukan sebuah rumah, yang ingin sekali kutempati. Aku tahu, kuncinya ada padamu, kau yang berhak memilih siapa yang akan menempatinya. Aku tahu kau tidak akan mendapatkan kesempatan itu dua kali.

Aku belajar melupakan perasaan ini, dan kembali menyusuri jalan yang amat terkenal ini. Kameraku menangkap gambar dari segala arah, mencari momen dan sesuatu yang bisa kulihat saat aku merindukan Jogja, saat aku merindukanmu.

Udara malam ini panas, membuatku memilih memasuki sebuah minimarket, membeli slushie coklat dingin, dan kembali berjalan dengan kamera yang menggantung di leherku. Sambil minum, aku kembali berjalan. Aku tersenyum kala menemukan momen bahagia yang berhasil aku tangkap. Momen-momen yang jelas tak akan terulang kembali.

Seharusnya dulu aku menangkap lebih banyak momen bersamamu.

Aku berhenti lagi, menatap langit, yang kini melintas satu pesawat di gelapnya. Aku termenung, aku berpikir, aku sedang pergi, jauh darimu, tapi kenapa semuanya justru mengingatkanku lagi kepadamu?

Apakah akan selalu begitu? Ke mana pun aku akan pergi?

Apakah karena kita selalu ingin pulang?

***



***

Staring at the bottom of your glass
Hoping one day you’ll make a dream last
But dreams come slow and they go so fast
You see her when you close your eyes
Maybe one day you’ll understand why
Everything you touch surely dies  

***  

Gelas di tanganmu sudah sejak lama kosong, tapi masih kau putar seakan masih tersisa tetesannya. Di bar ini kau termenung, bukan, kau bukan seorang pemabuk. Gelas tadi pun hanya berisi es dan air biasa. Mungkin hanya dingin yang tersisa dari gelas itu.  

Tapi gelas itu tak sedingin hatimu, dan tak sekosong jiwamu.

Musik terus menyeruak, menghentak-hentak di telingamu, menggelitikmu untuk turun ke lantai dansa. Tapi kau bukan orang seperti itu, bukan yang suka bersenang-senang dengan wanita-wanita yang secara acak kau raih tangannya. Tidak. Kau bukan lelaki seperti itu. Kau terus mengabaikan rasa bising yang sebenarnya mengganggumu.  

Lalu kenapa kau berada di sini, duduk seorang diri, seakan tak sadar bahaya terlalu dekat untuk menghampiri?  

Kau hanya ingin pergi ke suatu tempat, tempat yang tak pernah kau kunjungi bersamanya, ya, bersamanya. Gadis yang keriangannya selalu mendebarkan sanubarimu, gadis yang selalu ingin kau lindungi setiap dia ada di dekatmu.   Kau memejamkan kedua matamu, yang kau harap tak sesuai dengan yang terjadi. Kau tidak ingin melihat apa-apa, tapi senyum riang gadis itu terbayang jelas. Dan kemudian senyum itu hilang, dan terlihat air mata mulai membasahi pipinya yang ingin sekali kau sentuh.  

AARGH! Kau berteriak di dalam hati, seakan merutuki diri sendiri. Tidak, kata seakan itu harus dihilangkan, karena kau memang merutuki dirimu, atas kejadian bodoh yang kau lakukan.  

Akhirnya kau sadar, tak seharusnya kau berada di sini. Dengan malas kau menyambar jaketmu, dan keluar dari tempat laknat itu.  

***

Staring at the ceiling in the dark
Same old empty feeling in your heart
‘Cause love comes slow and it goes so fast
Well you see her when you fall asleep
But never to touch and never to keep
‘Cause you loved her too much
And you dived too deep…  

***  

Batu yang kau tendang menghilang di gelapnya malam. Lampu jalanan bahkan memperjelas temaram di wajahmu. Kau merindukannya. Bodohnya, kau baru menyadarinya. Setelah sekian lama kau mencari, kenapa baru sekarang kau mengerti?  

Bahwa senyumannya lah yang menenangkanmu,
tawanya lah yang menyenangkanmu,
kepolosannya lah yang menyentuhmu,
dirinya lah yang ada di hatimu.  

Kau mengunci diri di apartemenmu, kebisingan masih menyeruak dari jalanan di bawah sana. Dari jendelamu terlihat jelas masih banyak kendaraan yang berlalu lalang di dini hari seperti ini. Tanpa kau sadari ingatanmu tentangnya pun ikut berlalu lalang di benakmu. Bermunculan tanpa henti, seperti kendaraan-kendaraan itu yang masih saja terus berdatangan dari kedua arah.  
Kau menarik selimutmu, membuat kepalamu hilang di balik benda penghangat itu. Kau mencoba untuk tidur, tapi dirinya tampak lagi, terbayang lagi saat kau memejamkan mata. Apa dosa yang telah kau perbuat? Kenapa rasanya sesakit ini?  

Kau berguling ke sisi lain, tapi gadis itu masih muncul setiap kau memejamkan mata. Helaan nafasmu terdengar jelas, siapapun yang mendengar pasti sadar kau sedang terluka.  

Tapi bukankah luka ini kau yang membuat sendiri?
Bukankah kau si penyebab memar dalam hatimu?  

"Jikalau" atau pun "seandainya" terus kau ucap di dalam hatimu, walaupun kau sadar tidak akan membuahkan apapun.  

Kenapa penyesalan selalu datang terlambat? Kenapa tidak Tuhan beri rasa sesal ini di awal saja?  

Bahkan “kenapa” pun tidak akan menjawab apapun, saat ini.  

***  

Well you  only need the light when it’s burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go
Only know you’ve been high when you’re feeling low
Only hate the road when you’re missin’ home
Only know you love her when you let her go  

***  

Detik-detik kau lewati dengan bayangan dirinya di matamu. Akhirnya kau menyibakkan selimutmu. Kau berjalan ke arah rak buku di sudut kamarmu sesaat setelah kau menyalakan lampu, kau memilih sebuah buku yang kau harap bisa membuatmu lupa dengan segala hal ini.  

Kau kembali ke tempat tidurmu, mencari-cari halaman terakhir yang kau baca, tapi tidak kau temukan. Kau menyesal, kenapa tak kau selipkan pembatas?  

Tapi kejadian sederhana itu membuatmu sadar akan sesuatu.  

Bahwa kau hanya butuh lampu baru saat yang lama mulai meredup,
Hanya merindukan matahari saat hujan mulai mengguyur tanpa henti,
Baru tersadar kau sudah pernah sukses saat kau terjatuh,
Kau merutuki jalanan saat kau ingin segera kembali ke rumah  

Dan baru menyadari kau mencintainya saat kau mulai merelakannya….

Helaan nafas kembali terdengar. Sampai kapan, kau akan sesakit ini? Sampai kapan?  

Kau meletakkan buku di meja samping tempat tidurmu, saat kau tersadar hal yang membuatmu seperti ini tergeletak di sana.  

Undangan, pernikahan si gadis riang dengan lelaki pilihannya, semuanya sudah terlambat untukmu.  

Akhirnya kau memutuskan mengambil air wudhu, lalu bersujud di hadapanNya.   Di akhir doamu, kau bertanya pada Tuhan,  

"Should I let her go…?"  

***  

Will you let her go?  

'Cause you only need the light when it's burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go
Only know you’ve been high when you’re feeling low
Only hate the road when you’re missin’ home
Only know you love her when you let her go  

And you let her go  

***

HELLOOOOOOWWWW lama ga nulis. Hehe. Jangan protes kenapa cerbung yg itu belum lanjut. Tunggu aja tanggal mainnya. Sambil nunggu, jangan lupa kirim komen cerpen yg ini ke http://ceritanyaqisti.tumblr.com/ask

I’m waiting loh yaaaa. Thank fo’ reading ♥♥♥♥ AND THANK YOU FINALLY THIS BLOG HAVE REACHED 5K READERS AND COUNTING ♥♥♥ ME LOVE Y’ALL SO MUCH ♥♥♥♥

Xoxo,

@qisqiss



Il était pluie quand je l’ai rencontré dans une petite halte,
Il était un jeune charmant, mais malheureusement je ne l’ai jamais rencontré.
Tout à coup, il m’a s’ approché et m’a souri.
C’était le temps quand notre amour a commencé….

***

It was raining when I met him at a little bus stop,
He was a charming guy, but sadly I never met him before,
Unexpectedly, he came to me then smiled at me,
That’s the time when our love begin….

***

@qisqiss & @geraceeza



Satu Kata Tentang Kita

Part 5. Takdir.

***

"Udah nemu calon pengganti lo?"

Di sela-sela mencari berkas-berkas lama untuk di arsip ulang, Raza, wakil ketua Osis mengajukan pertanyaan yang membuat Alvian berpikir keras. Sebenarnya sih ada, tapi belum yakin, batinnya. Vian hanya menjawab pertanyaan partnernya itu dengan anggukan kecil.

"Siapa? Karenina?" Ditebak begitu, Alvian langsung menoleh,

"Kok lo tau?" Tanyanya penuh rasa penasaran.

"Cuma dia yang keliatan bersinar. Dan cocok buat ngegantiin lo, Vian." Jawab Raza kalem, masih sibuk dengan berkas-berkas lamanya.

"Masa sih cuma dia, Za?" Alvian bertanya sangsi, yang ditanya membalasnya dengan anggukan pasti. Sambil membetulkan letak kacamatanya, Raza berkata pada Vian

"Apa yang bikin lo ragu? Karena dia perempuan?"

"Ng… Bukan itu…"

"Terus?"

Gue sayang dia, gue ga mau dia ngerasain beban seorang ketua osis, Za. Alvian bergumam dalam hati.

"Ya… Kalau ada laki-laki, kenapa harus perempuan memimpin?" Alvian mengendikkan bahunya, mengabaikan tatapan tidak setuju Raza.

"Gue rasa, cuma Karenina yang sanggup ngegantiin posisi lo, Vian. Dan gue baru aja ngobrol sama wakasek. Kalau ga ada yang secemerlang dia, Pak Roby bakal ngangkat dia jadi ketos dengan cara aklamasi. Dan beliau terkesan final." Raza mengangkat berkas-berkas dari meja ketua osis dan mulai menyusunnya satu persatu di mejanya sendiri. Meninggalkan Alvian yang diam penuh dengan tanda tanya di benaknya.

***

Sejak Masa Orientasi, mata Alvian tidak pernah lepas dari Karenina, gadis berkacamata yang terlihat cemerlang. Bukan hanya terlihat, tapi dia sungguh cemerlang. Terbukti dia berani berbicara di depan ratusan murid SMA Harapan Bangsa untuk mewakili para murid baru. Dia melihat dirinya sendiri pada sosok Karenina.
Dulu gue yg jadi wakil, sekarang cewek itu, batinnya.

Alvian kagum. Kekagumannya makin menjadi saat Karen mengikuti tes seleksi OSIS. She’s somehow delicate, but she’s brave in the same time. Satu-satunya kata yang mencerminkan Karenina di mata Alvian adalah “unexpected”.

Naluri seorang lelaki membuatnya mendekati Karenina dengan cara.yang halus. Tak akan ada yang tahu jika Alvian sedang jatuh hati pada si anak baru. Beruntung sekali saat seleksi, Alvian dan Karen sering satu kelompok. Sampai akhirnya Alvian diangkat menjadi Ketua Umum Osis, dan Karenina menjadi Sekertaris II.

Setahun kepengurusan mereka membuat mereka dekat, Alvian ingin selalu melindungi Karen. Tak mau melihatnya terluka, tak mau melihatnya menangis.

Alvian memijat pelipisnya. Dia benar-benar tak mau Karen menanggung beban seperti ini. Tapi jika putusan wakasek sudah final, dia bisa apa?

"Kak Viaaan!" Suara ceria Karen membangunkannya dari lamunan. Dilihatnya Karen sedang melambai ke arahnya di depan pintu ruang osis, membawa beberapa surat yang harus dia tanda-tangani.

Alvian tersenyum, segera dia mendekati Karen. Sesekali bercanda sampai berkas-berkasnya selesai dia tanda tangani.

Melihat Karen yang menjauh, dia merasakan hal yang ganjil. Entah apa itu.

Kalau lo emang udah takdir ngegantiin gue di posisi ini, Ren, berarti takdir gue juga untuk selalu ada di samping lo nanti. Takdir seperti ini bakal berat, Ren. Gue bakal ada di sisi lo saat lo butuh seseorang untuk berbagi beban yang bakal lo tanggung.

Alvian menghela nafas, setelah batinnya berkata demikian, dia kembali ke mejanya.

Gue selalu merasa bertemu dengan lo adalah takdir yang selalu gue tunggu, batinnya lagi.

***

I’ll stand by you
I’ll stand by you
Won’t let nobody hurt you
I’ll stand by you

***

HAAAAAAAAI maaf lama nunggu. Banyak hal yg membuat saya harus vakum menulis :)

Thanks :) I’m waiting for yo comments :)

Xoxo

@qisqiss



Satu Kata tentang Kita

 

4. Rasa

 

***

 

"Hai Dio!"


“Hey Dio, apa kabar?”


“Dio, lagi apa?”

 

Dio sedang memainkan gitar di depan kelasnya saat sekelompok cewek-cewek kecentilan mendatangi dan menyerangnya dengan segudang pertanyaan basa-basi. Dio meringis, tapi ringisan Dio tampaknya malah diartikan ‘senyuman manis’ oleh mereka.

 

"Sorry err gue ada urusan." Dio melarikan diri, dia malas jika harus meladeni cewek-cewek itu. Sesederhana apapun tanggapan Dio, pasti akan dibilang "memberi harapan". Dengan kesal Dio memutar bola matanya, girls nowadays.

 

"Ciyee yang banyak fans."

 

Suara kikikan lembut seorang perempuan membuatnya menoleh, ternyata Nayla, gadis sunda jawa yang akhir-akhir ini sering menghabiskan waktu dengannya. Dio mendengus,

 

"Kalau punya fans macam begitu sih gue ogah, Nay. Serem deh ngebayangin gue diikutin ke mana-mana." Keluhnya, Nayla hanya tertawa.

 

"Elo sih, salah sendiri ganteng, pinter, jago main gitar, jago basket, taat ibadah, cewek mana yang ga bakal suka? You’re too perfect to be true, Dio." Ujar Nayla, suara ketulusan yang amat jelas sama sekali tidak membuat Dio merasa senang.

 

"Lo ngejek gue ya, Nay?" Dio mendengus kesal, Nayla tertawa lagi,

 

"Astaghfirullah, Dio. Lo tuh ya dipuji malah bilang gue ngejek lo, susah emang ngomong sama orang skeptis. Nah, itu tuh, satu-satunya kekurangan lo, skeptis." Nayla mengakhiri kalimatnya dengan sebuah cengiran, cengiran yang amat manis dengan lesung pipit yang muncul di pipinya, dapat membuat siapapun terpesona, kecuali Dio.

 

"Ga usah nyengir deh lo. Bete ah. Cewek-cewek emang ga ada urusan lain ya selain gangguin cowok? Ilang feeling gue." Dio bergidik, dia memang tak suka dengan situasi macam tadi. Tangan Nayla kini menepuk-nepuk pelan pundak Dio.

 

"Tenang sih, asal kamu kayak gitu terus juga pasti cewek-cewek itu bakal capek juga nanti. Eh gue mau ke perpus, mau nganterin ga?"

 

"Yeah, I hope so. Okey. Dari pada gue sendirian di sini dan pasti cewek-cewek ganjen itu bakal nyamperin gue lagi."

 

Kalimat polos Dio membuat Nayla tertawa sepanjang perjalanan menuju perpus, diam-diam banyak mata memandang penuh iri, Nayla yang cantik, ceria, dan menyenangkan, bersama Dio, di gitaris yang hampir sempurna,

 

apa ada yang lebih tidak adil dari ini?

 

***

 

"Hey, pensi gimana?"

 

Suara nge-bass seorang  membuat Karen mendongak dari laptopnya, dilihatnya kakak kelasnya, seniornya di osis, Alvian, sudah duduk di hadapannya, memegang novel The Lost Symbol, Karen memutar bola matanya, novel konspirasi, sangat kak vian.

 

Karen menghela nafas, dia mematikan kemudian menutup laptopnya. Sambil bertopang dagu, dia menjawab pertanyaan dari Vian,

 

"Yah… Udah 60 persen. Tinggal cari beberapa sponsor lagi, kita lagi mengejar salah satu merk kosmetik, biar dapat artis gratis, kalau ga Afgan ya Maudy Ayunda. Tinggal tahap akhir kok, lumayan kan dapet salah satu dari mereka untuk pensi kecil sekolah kita?" Karen memaksakan sebuah senyum, yang dibalas senyuman manis oleh Vian.

 

"You are a good leader, Ren."

 

"Not as good as you, kak." Karen menghela nafas lagi. Melihat Karen yang seperti itu, Vian menutup novelnya, dan mengeluarkan sebatang coklat dari saku dan menyodorkannya kepada Karen sambil tersenyum,

 

"I know this thing will make you feel better."  Ujarnya, Karen balas tersenyum, senyuman paling tulus yang pernah dilihat Vian selama ini. Hati Vian bahkan berdesir.

 

"Thanks Kak, kakak emang the best. Kalau ga ada kakak, aku ga tau deh harus gimana." Karen memainkan coklat tadi sambil menunduk, Vian tahu, Karen sedang menghadapi masa-masa terberatnya sebagai seorang ketua.

 

"Kantin yuk? Biar coklatnya bisa kamu makan, dan biar kita lebih enak ngobrol. Kalau di sini diliatin Bu Irma terus tuh."

 

Dibilang begitu, sontak Karen mengarahkan pandangannya ke arah tempat penjaga perpustakaan, dan memang Bu Irma sedang memicingkan mata ke arahnya dan Vian. Karen menahan tawa, dia kemudian menyetujui untuk pergi ke kantin. Setelah membereskan laptopnya, Vian dan Karen berjalan keluar perpustakaan. Kharisma kedua orang itu membuat semua orang memandang ke arahnya, terutama seorang lelaki yang baru saja sampai di depan perpustakaan. Karen, yang baru selesai memakai sepatu mendongak dan mendapati lelaki itu sedang memandanginya. Karen berusaha menunjukkan wajah tidak peduli.

 

"Yuk, Ren. Sini laptopnya gue aja yang bawa." Vian menyodorkan tangannya, Karen, meskipun dia termasuk gadis mandiri dan tak suka jika hal-hal kecil seperti ini dibantu, dia tetap menyodorkan tas laptopnya kepada Vian. Dia tahu, sekeras apapun dia melawan Vian, kakak kelasnya itu akan tetap menyodorkan tangannya sampai Karen memberikan laptopnya. Jadi, untuk apa membuang waktu untuk berdebat?

 

Karen diam-diam memperhatikan lelaki tadi datang bersama perempuan yang tidak dia sukai. Karen mendelik, kemudian berjalan ke kantin bersama Vian.

 

"Duh, ketua osis kita tuh jutek banget ya, Dio. Padahal kalau sering senyum dia pasti cantik." Nayla berujar sambil memiringkan kepalanya. Dio hanya diam.

 

"Nay, gue tunggu di sini ya. Males buka sepatu. Lo mau ngapain sih sebenernya?" Dio mengalihkan pembicaraan.

 

"Balikin novel, sama mau pinjam buku PKn. Okey. Bentar ya."

 

Nayla melepas kedua sepatunya dan masuk ke perpustakaan. Sementara Dio mencuri pandang ke arah Karen dan Vian yang sedang berjalan berdampingan menuju kantin.

 

Gue rasa lo udah nemu pengganti gue, Ren…

 

***

 

"Eh, tadi gue liat Kak Dio sama Kak Nayla masa. Cocok banget ya mereka?"

 

Ruang Osis di sore hari, tidak ada rapat, hanya ada beberapa orang sedang piket sambil mengobrol. Ada pula yang malas pulang dan mengerjakan pr dengan bimbingan anak yang lebih menguasai pelajaran yang dipr-kan. Karen sendiri sedang mengatur time-line dan job desk untuk proker selain pensi sambil mendengarkan beberapa anak buahnya bergosip.

 

"Eh sumpah? Ah gue cemburu nih. Gila kak Dio kan cowok sempurna banget. Harusnya sama gue bukan sama kak Nayla." salah satu anak buah Karen yang bernama Mia, anak kelas sepuluh, sedang asik bergosip dengan kawan-kawan sesama osisnya, Wilma dan Irine. Perkataan Mia barusan sukses dibalas dengan tempeleng di kepalanya oleh Wilma dan Irine, bersamaan.

 

"Pede amat lu. Mana mau kak Dio sama lu. Ya kak Dio nyari yang sebandinglah sama dia. Kak Nayla cocok kok." Tukas Wilma, disambut dengan anggukan Irine.

 

"Ih kalian jahat. Aku kurang sebanding apa coba sama kak Dio? Aaaah Kak Dio….." Mia meratap.

Karen memutar bola matanya, ingin sekali dia menghentikan obrolan mereka. Dia tak sanggup mendengar nama Dio dan perempuan itu disandingkan terus seperti itu. Karen sama sekali tak sanggup.

 

"Eh aku dukung kok kak Nayla sama kak Dio cepetan jadian. Kak Nayla kan jago nyanyi, Kak Dio jago gitar. Ampuuun kurang jodoh apa mereka." Ujar Irine bersemangat, tak lama kemudian dia menambahkan dengan lesu,


“yah…meskipun gue patah hati sih…”

 

Mia dan Wilma tertawa, bukan hanya mereka, tapi juga anak-anak osis yang kebetulan mendengarnya.

 

"Kalau Kak Karen sama Kak Vian gimana?"

 

Pertanyaan sekonyong-konyong dari Mia membuat Karen yang sedang minum tersedak. Sontak tawa kembali membahana di ruang osis.

 

"Ya Tuhan kalian ini." Karen memutar bola matanya, kembali menatap laptopnya dengan serius.

 

"Aih salting gitu, Kak." goda Wilma, disambut dengan tawa lagi. Mau tak mau Karen pun mengulum senyum.

 

"Udah… Daripada nanyain ke Karen ga bakal dijawab, mending nanya sama gue langsung."

 

Suara bass yang sangat dikenal membuat semua yang berada di ruang osis menoleh ke sumber suara, terlihat Vian sedang bersidekap, menyender di pintu ruang osis yang terbuka.

 

"Aih Kak Vian! Jadi beneran ya kak Vian sama kak Karen jadian? Gosipnya panas banget loh kak!" Irine bertanya dengan semangat.

 

"Gosip darimana tuh?!" Karen berseru dari balik meja ketua.

 

"Eh banyak tahu kak yang ngegosipin gitu. Terus dibilang cocok aja gitu kak sama anak-anak satu sekolah. Soalnya sama-sama berkharisma tapi jutek dan dingin." Emir, yang sedari tadi sibuk dengan pr nya tiba-tiba angkat bicara.

 

"Iya ya. Kak Karen sama Kak Vian kenapa kalau di luar dingin banget sih? Kalau di sini aja ngebanyolnya ga nahan. " Irine menimpali. Karen dan Vian hanya saling menukar pandangan penuh arti.

"Kita emang dingin begini kali. Cuma gara-gara ada kalian jadi ancur sifat asli kita. Iya ga Ren?" ucapan Vian disambut dengan anggukan Karen.

 

"Iya dah. Ampun ampun. Serem kalau Kak Karen udah marah." Emir nyengir ke arah Karen, Karen hanya melotot. Kemudian dia berjalan ke arah Vian, dan mereka berbincang lagi di bangku depan Ruang Osis, mengabaikan tatapan penuh tanda tanya di muka anak-anak buahnya.

 

***

 

Motor Scoopy Dio berhenti tepat di depan rumah dengan halaman yang sangat luas. Gadis yang daritadi diboncengnya turun dan tersenyum kerahnya.

 

"Thanks Dio udah nganterin pulang. Mau masuk dulu ga?" Tawar Nayla sambil tersenyum. Dio menggeleng.

 

"Gue mau balik."

 

"Oke kalau gitu. Hati-hati ya, Dio."

 

Nayla melambaikan tangannya sampai motor Dio tak tak terlihat lagi. Gadis berambut keriting gantung alami itu menghela nafas. Bagaimana pun dia mencoba mendekati Dio, ada satu hal yang tak pernah bisa dia sentuh, ada satu hal yang Dio sembunyikan, Nayla tahu Dio menyukai seseorang, tapi Nayla tak tahu siapa.

 

Dengan gontai dia membuka pagar, dan berjalan masuk ke rumahnya.

 

***

 

I’m waiting for your comments and advices at http://ceritanyaqisti.tumblr.com/ask. merci :)



Satu Kata tentang Kita

3. Pena

***

Untaian kata-kata mengalir indah dari tangan Dio. Tiga jam sudah dia berkutat dengan buku dan pena, tapi tangannya tak mau berhenti menulis apa yang ada dalam pikirannya.

Konsentrasinya terganggu saat mendengar deru mesin mobil dari depan rumahnya. Dio bangkit, dan memandang keluar jendela. Dia menghela nafas lega. Akhirnya gadis itu pulang juga. Kalau boleh Dio jujur, dia tak suka gadis itu yang sekarang. Matanya berkantung, raut wajahnya terlihat sinis, tingkahnya yang angkuh.Tak jarang pula Dio melihatnya meminum obat di ruang UKS. Dia kesal tiap kali mengingatnya. Sudah tahu badannya ringkih, masih saja sok sibuk. Batinnya.

Diam-diam Dio melihat gadis itu memasuki rumahnya. Lelaki itu pun kembali duduk dan melanjutkan pekerjaannya.

"Ah, tintanya habis." Dio mengguncang-guncangkan pena miliknya dengan kesal. Setelah memastikan kalau tinta penanya benar-benar habis, dia membuka lacinya dengan tak sabar, mencari pena lain yang bisa digunakannya.

Tangannya menyentuh sebuah pena, saat Dio mengeluarkannya, dia hanya menatap benda itu diam. Diputarkannya pena berwarna biru tua itu hingga dia dapat membaca tulisan yang membuatnya terhenyak di kursinya.

***

"Dio kalau udah gede mau jadi apa?" seorang gadis cilik bertanya pada Dio kecil. Rambutnya yang diikat dua berayun-ayun, menampakkan kesan ceria di diri anak berumur tujuh tahun itu.

"Mau jadi penulis, kayak Mama." Dio kecil, menjawab ditambah dengan cengirannya. Tak malu meskipun kedua gigi depannya sedang tanggal. Melihat gadis cilik itu mengangguk-anggukkan kepalanya, Dio kembali membaca buku cerita hadiah dari Mamanya, "Hansel and Gretel".

"Dio baca apa sih?" Gadis cilik itu bersuara lagi, saat Dio mendongak, gadis itu menatapnya penuh rasa penasaran. Dio menjawab pertanyaannya sambil terkekeh,

"Ini cerita tentang Hansel dan Gretel, mau Dio ceritain?" tawarnya tulus, gadis itu mengangguk ceria.

"Asik! Tapi nanti kalau udah gede, aku mau denger dan baca cerita karya Dio sendiri. "

***

Memulang waktu, tak ada yang melarang, bebas, tapi memang, terkadang ada luka batin yang kembali terluka.

Dio belum melanjutkan tulisannya. Yang ada lelaki itu hanya menatap nanar pena biru yang tak sengaja ia temukan. Menemukan benda itu sama saja memanggil kembali seluruh kenangan yang telah ia coba kubur. Seperti tadi, seketika Dio teringat dirinya dan sahabat masa kecilnya, duduk di taman komplek, Dio asyik membaca buku cerita sedangkan sahabatnya asyik bermain balon sabun, lalu mereka mengobrolkan apa saja yang bisa dipikirkan oleh mereka.

Dio akhirnya berhenti menulis. Pena tadi, tidak dia masukkan kembali ke dalam laci, tapi justru dia letakkan di atas buku draftnya.

Setelah menghela nafas, dia mengambil gitar, dan memainkannya di tembok rendah beranda kamarnya. Awalnya, Dio bermain gitar karena dipaksa ayahnya untuk belajar musik. Dio tak mau, tapi kini, bermain gitar dan menulis adalah hidupnya. Gitar dan pena adalah hidupnya.

Mata Dio menatap ke satu arah. Gadis tadi sore, tetangganya, sahabat masa kecilnya, terlihat sedang berdiri, bersandar pada tembok rendah beranda rumahnya, dengan satu tangan di telinga, gadis itu sedang memunggunginya dan berbicara dengan seseorang melalui telepon genggamnya.

Dio mengalihkan pandangannya, kali ini dia menatap langit, gelap, berawan. Hujan deras tadi masih menyisakan gerimis. Dio tak bisa melihat bintang dan bulan, benda-benda langit yang bisa membuatnya tenang.  Mencoba mengisi kesunyian, Dio mulai memetik gitarnya. Nalurinya, entah mengapa,  membuatnya menyanyikan lagu The Beatles, While My Guitar Gently Weeps. Lagu ini, dia pelajari dari ayahnya yang amat menyukai The Beatles. Kaset-kaset lawasnya masih terjaga dengan baik di kamarnya.

I look at you all see the love there that’s sleeping
While my guitar gently weeps
I look at the floor and I see it needs sweeping
Still my guitar gently weeps

Alunan gitar Dio terdengar syahdu, memecah malam yang mulai mencekam. Dio melirik gadis itu, masih berdiri di sana, masih memunggunginya.

I don’t know why nobody told you
How to unfold your love
I don’t know how someone controlled you
They bought and sold you

Gerimis mulai berhenti, suara percikannya sudah kurang terdengar. Dio menghela nafas di sela-sela nyanyiannya, berharap awan kelabu itu menyibakkan diri, dan menampakkan benda-benda malam yang dapat secara langsung menyihirnya menuju ketenangan.

Dio ingat tadi siang, dia sempat menatap sebuah ruangan, di mana dia tahu gadis itu ada di sana, di mana dia tahu gadis itu akan berada sampai sore di sana, gadis itu pasti mengabaikan kesehatannya, gadis itu pasti angkuh seperti biasanya, tidak lagi ceria seperti yang seharusnya.

I look at the world and I notice it’s turning
While my guitar gently weeps
With every mistake we must surely be learning
Still my guitar gently weeps

Well

I don’t know how you were diverted
You were perverted too
I don’t know how you were inverted
No one alerted you

Lagi-lagi Dio berkelana ke masa lalu, Dio tak suka saat-saat seperti ini. Dio tak suka membuka kembali halaman-halaman yang sudah ia lewati. Dia hanya ingin meneruskan perjalanannya. Hidup itu memang seperti buku, tapi tidak seperti menulisnya, yang jika terjadi kesalahan bisa dihapus dan ditulis ulang. Dio tidak bisa menghapus atau menulis ulang apa yang terjadi dengan dirinya, begitu pun gadis itu.

I look at you all see the love there that’s sleeping
While my guitar gently weeps
Look at you all
Still my guitar gently weeps

Setelah selesai menyanyikan lagu itu pun, tulisan di pena biru itu masih terbaca dengan jelas, masih teringat dengan jelas, masih terbayang dengan jelas. Berulang kali muncul, berulang kali terdengar seakan ada yang membisikkan satu demi persatu kata yang tertera. Dio tahu, mencoba melupakannya hanyalah sebuah kesia-siaan. Karena itu, dia membiarkan hatinya membacakan lagi kalimat itu untuknya.

"Untuk sahabatku Dio Fahreza Muhammad, dari Karenina Alyssa Kaniz."

***

I’m waiting for your comment here » http://ceritanyaqisti.tumblr.com/ask. thanks for reading this! :)





When I'm in doubt, I write. | catch @qisqiss on twitter | http://marvelousqisti.tumblr.com | http://melancholyqueen.tumblr.com | page counter





Powered By: Tumblr Themes | Facebook Covers